Tuesday, November 16, 2021

cara cerdas dalam berbisnis untuk krama Bali

Photo by Steve Douglas on Unsplash

Kita tidak bisa menjeralisasi atau pukul rata, namun dari beberapa pengamatan saya menemukan hal ini banyak terjadi.


Ketika bisnis para pendatang dari luar bali menjadi ramai, misalnya bisnis kuliner nya ramai, muncul isu bahwa dia memakai ilmu hitam padahal ketika ada yang gosong pada ayam tempong yang dijual nya atau rasa ayam yang kurang enak, dengan segera si pelanggan di beri ayam yang baru.


atau Ketika ada pekerjaan tambahan pada sepeda motor pelanggannya, maka seringkali pekerjaan tambahan itu tidak dikenakan biaya tambahan. 


atau Ketika anda membeli bakso di pendatang, seringkali anda mendapat bonus bakso sebiji atau dua biji. Apalah arti nya bakso sebiji atau dua biji itu bagi si pedagang, namun bisa berarti banyak bagi si pembeli.


Pengalaman saya saat membeli cabai kepada pedagang yang orang bali, saat kita mencoba menawar dengan harga yang menurut dia "tidak wajar" dia mengatakan akan segera tutup toko (sebagai sindiran kepada pembeli), tapi ketika saya melakukan hal yang sama kepada pedagang cabai di sebelahnya, pedagang yang pendatang itu tersenyum sambil menanyakan akan beli seberapa banyak di harga yang saya tawar. Walaupun tidak dikasih di harga yang saya tawar, akhirnya saya membeli di harga kesepakatan karena keramahan si pedagang.   


Nah, kalau kejadiaanya seperti itu lalu siapa yang akan memenangkan persaingan bisnis di Bali sementara ketika lokal berdagang cabai dan ada yang nawar, si lokal malah "ngambres" menggerutu.


Yah, mereka (pendatang) tau kalau mereka tidak memberi lebih kepada pelanggan maka mereka akan kalah dalam berbisnis di Bali. Namun apa yang terjadi adalah justru banyak pendatang yang bisnisnya menjadi juara di Bali.


Dalam hal jaringan bisnis, mereka juga sangat kuat. Merasa sama sama diperantauan, tanpa instruksi secara formal-pun mereka sudah berbelanja sesama mereka sendiri. Sadar kalau tidak seperti itu maka mereka tidak akan lama bertahan di tanah rantauan


Ini harus menjadi perhatian dan pelajaran seluruh orang Bali. Kita harus memiliki semangat berbisnis seperti semangat para pendatang dan membuat jaringan yang kuat seperti jaringan para pendatang. 


Jadilah tuan rumah di negeri sendiri ton!

No comments:

Post a Comment